Lintas7News.com – Amerika Serikat berencana menjual kapal patroli militer bersejarah ke Indonesia. Kapal bernama Adak tersebut bersejarah karena digunakan untuk mengevakuasi warga AS saat tragedi 9/11.

South China Morning Post melaporkan bahwa pada 2 April lalu, Badan Kerja Sama Pertahanan Keamanan AS sudah memberikan informasi secara formal kepada Kongres mengenai rencana penjualan Adak dan satu kapal lain, Aquidneck, ke Indonesia.

Coast Guard AS menyatakan bahwa mereka akan secara resmi menawarkan Adak pada bulan depan, tepatnya 30 hari setelah Kongres menerima notifikasi mengenai rencana penjualan tersebut.

Dilansir dari CNNIndnesia.com – Dalam pernyataan kepada The New York Post, Coast Guard AS menyatakan bahwa mereka memutuskan untuk menawarkan kapal ini ke Indonesia untuk “memenuhi kepentingan nasional AS.”

Pihak Coast Guard AS mengaku sudah berkoordinasi dengan Angkatan Laut Indonesia mengenai rencana ini sejak Februari lalu. Namun, hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pihak Indonesia kepada media.

Sementara itu, Kepala Badan Keamanan Laut (Bakamla), Aan Kurnia, mengatakan kepada This Week in Asia bahwa ia tak mengetahui rencana Indonesia untuk membeli kapal patroli dari AS.

Namun, Bakamla memang akan meningkatkan kemampuan pengamanan laut dengan membeli kapal-kapal baru.

Tahun lalu, Aan mengatakan bahwa Bakamla butuh setidaknya 67 kapal tambahan agar dapat menjaga perairan Indonesia dengan baik.

CNNIndonesia.com sudah meminta konfirmasi lebih lanjut dari Kementerian Pertahanan dan Bakamla, tapi belum mendapatkan respons.

Adak sendiri merupakan kapal yang punya makna tersendiri bagi warga AS. Kapal itu digunakan untuk mengevakuasi sekitar 500 ribu warga dari Lower Manhattan setelah serangan 9/11 di New York.

Saat ini, kapal tersebut sedang berada di pelabuhan di Bahrain. Adak rencananya bakal dinonaktifkan pada Juli mendatang.

Kabar mengenai rencana penjualan ini pun menuai kecaman dari berbagai pihak, termasuk Komunitas Sejarah USCGC Adak. Mereka menganggap kapal itu seharusnya dipajang di museum di AS.

Grup itu lantas membuat petisi virtual untuk menolak penjualan tersebut. Kini, petisi itu sudah ditandatangani oleh lebih dari 7.600 orang.

“Kapal Adak merupakan kapal bersejarah dan seharusnya dipulangkan. Kami berencana memasukkan USCGC Adak ke museum untuk menunjukkan sejarah Coast Guard dan sebagai peringatan 9/11,” demikian kutipan petisi tersebut.

Setidaknya tiga anggota Kongres, yaitu dua dari Partai Republik dan satu kader Partai Demokrat, juga mendukung kampanye penolakan ini.

Mereka pun mengirimkan surat ke Kementerian Luar Negeri agar rencana penjualan itu dapat dipertimbangkan kembali.

Namun, rencana penjualan kapal ini dianggap sesuai dengan strategi politik Indo-Pasifik di bawah pemerintahan Presiden Joe Biden untuk menggandeng sekutu-sekutu di Asia demi meredam pengaruh China di kawasan.

(CNNIndonesia/RI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

For security, use of Google's reCAPTCHA service is required which is subject to the Google Privacy Policy and Terms of Use.

I agree to these terms.