Lintas7news.com – Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat (AS) menyetujui paket penjualan alat militer ke Taiwan senilai US$1,1 miliar atau Rp16,38 triliun (US$1=Rp14.892).

Sabtu (3/9), penjualan ini dilakukan setelah China melakukan latihan militer secara agresif di sekitar Taiwan usai Ketua DPR AS Nancy Pelosi berkunjung ke Taipei pada awal Agustus 2022.

Kementerian Luar Negeri AS mengatakan alat militer yang dijual ke Taiwan terdiri dari senjata, rudal anti kapal, dan rudal udara.

Lebih rinci, AS akan menjual rudal Sidewinder yang dapat digunakan untuk serangan udara ke udara dan permukaan dengan harga US$85,6 juta.

Selain itu, rudal anti kapal Harpoon seharga US$355 juta, dan dukungan untuk program radar pengawasan Taiwan yang diperkirakan senilai US$665,4 juta.

Kontraktor utama untuk rudal Harpoon adalah Boeing Co. Sementara, Raytheon merupakan kontraktor utama untuk Sidewinders dan program radar.

Pemerintah AS sendiri telah mempertimbangkan seluruh paket militer itu dengan berkonsultasi terlebih dahulu dengan anggota parlemen dari Negeri Paman Sam dan Taiwan.

“Ketika China terus meningkatkan tekanan terhadap Taiwan, termasuk melalui peningkatan kehadiran militer dan maritim di sekitar Taiwan dan terlibat dalam upaya untuk mengubah status quo di Selat Taiwan, kami memberi Taiwan apa yang dibutuhkan untuk mempertahankan diri,” ungkap Direktur Senior Gedung Putih untuk China dan Taiwan Laura Rosenberger.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Taiwan mengatakan kegiatan provokatif China baru-baru ini merupakan ancaman serius. Dengan demikian, paket penjualan senjata dari AS akan membantu Taiwan menghadapi tekanan dari China.

“Pada saat yang sama, itu juga menunjukkan bahwa hal itu akan membantu negara kami memperkuat kemampuan pertahanannya secara keseluruhan dan bersama-sama menjaga keamanan dan perdamaian Selat Taiwan dan kawasan Indo-Pasifik,” kata Kementerian Pertahanan Taiwan.

Dilansir dari CNNIndonesia.com – Hubungan China dan Taiwan semakin panas usai Pelosi berkunjung ke Taipei pada bulan lalu. China bahkan sempat mengirim puluhan pesawat dan 14 kapal perang ke wilayah laut sekitar Taiwan.

Pihak China mengatakan hal itu dilakukan sebagai bagian dari latihan militer. Namun, Taiwan mengklaim puluhan pesawat China sempat melintasi garis tengah Selat Taiwan.

Garis tengah merupakan garis tak resmi yang membelah Selat Taiwan menjadi dua sisi, yakni Taiwan dan China. Garis ini ditetapkan dalam perang dingin demi mengurangi risiko bentrok antara Taipei dan Beijing.

Dengan kata lain, garis tengah tak pernah diresmikan lewat kesepakatan atau perjanjian. Namun, garis ini berhasil memisahkan militer Taiwan dan China.

(CNNIndonesia/RI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

For security, use of Google's reCAPTCHA service is required which is subject to the Google Privacy Policy and Terms of Use.

I agree to these terms.