Lintas7news.com – Presiden Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) akan melakukan kunjungan ke Ukraina dan Rusia dalam misi menjadi juru damai jelang gelaran G20.

Jokowi akan menemui Presiden Zelensky di Kyiv, kemudian bersua Presiden Vladimir Putin di Moskow.

Kunjungan itu akan dilakukan Jokowi setelah menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 di Jerman, 26-28 Juni.

Namun, mampukah Jokowi menjadi juru damai antara Rusia dan Ukraina yang saling bertikai dengan bertemu Zelensky dan Putin?

Sejumlah pengamat mencoba menguraikan terkait peluang Jokowi membuka dialog damai di antara dua negara tersebut.

Profesor hubungan internasional dari Universitas Pelita Harapan, Aleksius Jemadu, mengungkapkan langkah Jokowi tersebut adalah upaya RI untuk tidak memihak dalam menanggapi konflik Rusia-Ukraina. Ia juga menilai Indonesia punya potensi untuk menjadi penengah dalam konflik itu.

“Indonesia punya potensi untuk menjadi penengah yang bisa dipercaya kedua pihak, tapi tampaknya Indonesia belum punya konsep yang komprehensif [terkait] bagaimana penyelesaian konflik yang adil dan mengacu pada hukum internasional,” kata Aleksius saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (16/6).

“Jokowi berkepentingan untuk menyelamatkan agenda Konferensi Tingkat-Tinggi (KTT) G20 pada November karena itu [dia] membuka pintu dialog untuk semua pihak,” tutur Aleksius.

Pengamat hubungan internasional Universitas Indonesia, Suzie Sudarman, bahkan secara spesifik pesimistis bahwa Indonesia mampu menjadi juru damai terkait kunjungan Jokowi ke Ukraina dan Rusia.

“Bargaining position Indonesia sangat lemah karena tidak ada posisi tukar yang nyata. (Jokowi) hanya menunjukkan sesuai permintaan, (Presiden Volodymyr) Zelensky juga diundang sebagai good will Indonesia. Kalau negara adidaya akan tidak datang ya sedikitnya Jokowi menunjukkan good will (iktikad baik),” paparnya menambahkan.

Senada dengan Aleksius, Suzie menilai misi terpenting Jokowi menyelamatkan ‘muka Indonesia’ yang akan menjadi tuan rumah G20 pada acara puncak November mendatang.

Sebelumnya, negara-negara Barat terutama Amerika Serikat sempat mengancam akan boikot G20 jika RI undang Rusia. Negara-negara itu bahkan meminta Indonesia juga mengundang Ukraina meski bukan anggota G20.

Tentu saja Jokowi harus melakukan langkah nyata agar tak terjadi preseden buruk di G20 imbas dari perang antara Rusia dan Ukaina. Rencana Jokowi untuk menemui Zelensky dan Putin pun sebagai bagian daro iktikad baik Indonesia mengamkomodasi dua pihak dengan tetap bersikap netral.

“(Sikap Jokowi) hanya good will (Iktikad baik) karena mereka (Rusia-Ukraina) bertikai belum tentu akan datang (ke G20). Good will kan aman-aman saja, tapi tetap manut pada permintaan. Belum tentu juga Putin datang kan takut diculik atau cedera ya,” kata Suzie.

Dilansir dari CNNIndonesia.com – Sementara itu, Guru Besar Hukum Internasional UI, Hikmahanto Juwana, menilai upaya Jokowi patut diapresiasi terlepas keberhasilannya nanti mencoba menjadi juru damai.

“Hal ini karena perang di Ukraina telah menyengsarakan banyak pihak, termasuk negara-negara yang tidak terlibat dalam konflik, dan telah berdampak pada perekonomian dunia,” kata Hikmahanto .

Misi upaya damai dalam rencana kunjungan Jokowi ke Ukraina dan Rusia pun disebutnya tepat untuk mengetahui kemungkinan poin-poin yang dapat disepakati Rusia dan Ukraina.

“Rencana kunjungan ini sama sekali tidak terlambat mengingat perang di Ukraina masih berlangsung sampai hari ini dan beberapa waktu ke depan,” ujar dia.

(CNNIndonesia/NB)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

For security, use of Google's reCAPTCHA service is required which is subject to the Google Privacy Policy and Terms of Use.

I agree to these terms.