Lintas7News.com – Presiden China, Xi Jinping, dan Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen, saling serang melalui pidato selama akhir pekan. Keduanya memperebutkan kedaulatan masing-masing wilayah kekuasaan di tengah peningkatan ketegangan.

Saling serang ini bermula ketika Xi menyampaikan pidato pada Sabtu (9/10). Dalam pidato itu, Xi menyatakan bakal berupaya untuk menyatukan kembali Taiwan dengan China, konsep yang dikenal dengan sebutan prinsip “Satu China” selama ini.

“Separatisme untuk kemerdekaan Taiwan merupakan tantangan terbesar untuk mencapai reunifikasi, dan bahaya tersembunyi yang paling serius dalam pemulihan nasional,” ujar Xi.

Xi kemudian menyatakan bahwa reunifikasi ini akan dilakukan atas dasar kepentingan rakyat Taiwan. Namun, Xi menegaskan bahwa China akan melindungi kedaulatan dan kesatuannya.

“Tak ada yang boleh meremehkan tekad teguh, keinginan kuat, dan kemampuan besar rakyat China untuk mempertahankan kedaulatan dan integritas wilayahnya,” ucap Xi.

Dilansir dari CNNIndonesia.com – Sehari kemudian, Minggu (10/10), Tsai lantas membalas pernyataan Xi itu melalui pidato perayaan Hari Nasional Taiwan. Tsai sekali lagi menegaskan bahwa ia ingin meredakan ketegangan di Selat Taiwan selama beberapa waktu belakangan.

Ia juga menegaskan bahwa Taiwan tak akan “bertindak gegabah.” Namun, Tsai menekankan sikapnya ini tak boleh diartikan bahwa rakyat Taiwan akan tunduk pada tekanan.

“Kami akan terus meningkatkan pertahanan nasional kami dan menunjukkan tekad kami untuk melindungi diri sendiri demi memastikan tak ada siapapun yang dapat memaksa Taiwan mengambil jalan yang sudah ditetapkan China untuk kami,” ucap Tsai.

Ia kemudian berkata, “Ini karena jalan yang diberikan China tak ada yang menawarkan cara hidup bebas dan demokratis bagi Taiwan, juga kedaulatan bagi 23 juta rakyat kami.”

Beberapa jam setelah itu, Xi langsung merilis pernyataan melalui kantor perwakilan China untuk urusan Taiwan mengecam keras pidato Tsai.

“Pidato itu memperjuangkan kemerdekaan, memicu konfrontasi, dan menghilangkan sejarah, dan fakta yang bias,” demikian pernyataan kantor tersebut.

Mereka juga menyatakan bahwa “reunifikasi” harus terjadi dan pintu diskusi akan tertutup jika Taiwan tetap ingin merdeka.

“Provokasi kemerdekaan otoritas Partai Demokratik Progresif merupakan sumber ketegangan dan guncangan dalam relasi antar-selat dan merupakan tantangan terbesar atas perdamaian dan stabilitas di sekitar Selat Taiwan,” bunyi pernyataan tersebut.

Saling serang pernyataan ini terjadi di tengah peningkatan ketegangan antara China dan Taiwan dalam sepekan belakangan.

Ketegangan itu meningkat setelah China mengerahkan nyaris 150 pesawat ke Zona Identifikasi Pertahanan Udara Taiwan (ADIZ) sejak Jumat hingga Minggu pekan lalu.

Setelah itu, Menteri Luar Negeri Taiwan, Joseph Wu, menyatakan bahwa pihaknya siap jika harus berperang dengan China.

Sementara itu, Tsai menyatakan Taiwan tak ingin ada konfrontasi militer dengan siapapun, termasuk China. Namun, Tsai bersumpah pihaknya akan melakukan apa pun untuk mempertahankan kedaulatan Taiwan.

(CNNIndonesia/RI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

For security, use of Google's reCAPTCHA service is required which is subject to the Google Privacy Policy and Terms of Use.

I agree to these terms.