Lintas7News.com – Setelah mendapat laporan Rusia mengerahkan pasukan ke perbatasan sebelah timur negaranya, Pemerintah Ukraina sedang meningkatkan kewaspadaan dan bersiap menghadapi peperangan.

Dilansir dari CNNIndonesia.com, Kondisi ini bisa membuat terjadinya peperangan antara kedua negara pada 2014 silam kembali terulang.

“Pengerahan kekuatan dalam bentuk latihan militer yang diduga sebagai aksi provokasi di sepanjang perbatasan adalah permainan lama Rusia,” kata Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, saat memberikan keterangan di Kiev.

Pasukan Rusia dilaporkan mendekati wilayah Donetsk dan Lugansk di timur Ukraina. Menurut laporan intelijen Ukraina, diiperkirakan bakal menggelar serangan pada pertengahan April, pasukan Rusia dan pemberontak memperkuat koordinasi mereka.

Kekerasan di kawasan timur Ukraina yang dikuasai pemberontak yang didukung Rusia kembali meletup pada pekan ini. Dalam kontak senjata dengan pemberontak sejak awal 2021 telah dilaporkan 20 tentara Ukraina meninggal dan 57 lainnya terluka.

Padahal antara kedua belah pihak sudah menekan perjanjian gencatan senjata. Namun, kesepakatan itu dinilai rapuh.

Zelensky lantas meminta bantuan kepada sekutunya yaitu Amerika Serikat, untuk menghadapi Rusia.

Kementerian Luar Negeri AS menyatakan menyoroti pengerahan pasukan Rusia di sepanjang perbatasan timur Ukraina.

Juru Bicara Kemenlu AS, Ned Price menambahkan, “Yang kami keberatan adalah tindakan agresif yang bertujuan untuk intimidasi dan mengancam mitra kami, Ukraina,”.

Kemarahan Rusia setelah Presiden AS, Joe Biden, menyebut Presiden Rusia, Vladimir Putin, sebagai pembunuh yang membuat terbentuknya peristiwa ini menurut para pengamat.

Menteri Pertahanan AS, Lloyd Austin, dalam sambungan telepon dengan Menhan Ukraina, Andriy Tara, berjanji tidak bakal meninggalkan sekutunya di tengah sikap Rusia yang semakin agresif.

Pembantahan juga dilakukan oleh pemerintah Rusia terkait pengiriman pasukan ke wilayah perbatasan Ukraina.

“Federasi Rusia mengerahkan pasukan di dalam wilayah kedaulatan dan sesuai diskresi masing-masing,” tambah Juru Bicara pemerintah Rusia, Dmitry Peskov.

Peskov mengatakan semua pihak tidak perlu khawatir karena pasukan itu tidak mengancam siapapun.

Penyebab pecahnya peperangan dikawasan timur  pada tahun 2014 setelah Presiden Ukraina, Viktor Yanukovych, yang dekat dengan Rusia tumbang akibat gelombang demo. Dalam peperangan itu dilaporkan menelan korban jiwa lebih dari 13 ribu orang, dan Ukraina juga kehilangan Semenanjung Krim yang diduduki oleh Rusia.

(CNNIndonesia/RI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

For security, use of Google's reCAPTCHA service is required which is subject to the Google Privacy Policy and Terms of Use.

I agree to these terms.