Oleh: Anang Agus F

Pulung dalam arti Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai beragam makna, pertama arti pulung adalah mendapatkan kebahagiaan sedangkan yang kedua adalah mendapatkan kemalangan. Tinggal apa yang akan terjadi, maka orang akan menganggap semua pulung itu adalah hasil sebuah kejadian yang akan terjadi, apakah akan mendapatkan kebahagiaan atau kemalangan.

Tetapi saya lebih mengarah pada pulung yang mendapatkan kebahagiaan, karena setiap orang sudah pasti akan menginginkannya. Banyak orang yang berusaha mati-matian untuk mendapatkan pulung kebahagian. Bagi sebagian orang Jawa, pulung lebih diartikan sebagai kebahagiaan atas anugrah Tuhan Yang Maha Esa.

Menarik untuk dikaji terkait dengan pulung di masa sekarang ini. Terlebih sebentar lagi ada momen pilkada serentak dan situasi sekarang, pandemi Corona masih berlangsung. Pulung (kemalangan) karena masih ada Covid-19 dan pulung (kebahagiaan) karena sebentar lagi ada momen pilkda serentak.

Pulung-Pilkada-Corona, akan menjadi sebuah kesatuan dalam momen ini menurut saya, karena disaat masyarakat tengah dihantui (kemalangan) akibat Covid-19, pemerintah justru tetap melangsungkan pilkada serentak. Dengan alokasi dana sampai ratusan trilyun untuk mengatasi pandemi Corona. Sampai saat ini justru masih belum bisa teratasi.

Disatu sisi, pemerintah tetap menjalankan pilkada serentak  kabupaten atau kota diseluruh Indonesia. Dengan mengalokasikan dana yang sangat besar. Apakah nantinya pilkada akan berlangsung dengan demokratis di saat pandemi ini?. Karena banyak faktor yang akan mempengaruhi pilkada yang tidak demokratis.

Pertama, disaat pandemi ini pemerintah pusat mengeluarkaan aturan dan larangan yang membatasi ruang gerak masyarakat untuk berkumpul. Menjaga jarak aman dengan tidak melakukan kontak langsung dengan warga lainnya. Ini akan menjadi kesulitan bagi calon lain untuk memobilsasi massa secara langsung dalam memaparkan program kerja. Keuntungan dari petahana adalah bahwa komunikasi akan tetap terjalin sesuai dengan alur struktural dalam pemerintahan.

Kedua, bantuan sosial yang diberikan oleh pemerintah pusat yang di salurkan oleh pemerintah daerah akan efektif sebagai alat untuk meraih simpati masyarakat. Karena berbagai acara atau dalam pemeberian bantuan di tingkat daerah seperti kabupaten atau kota akan di hadiri oleh Bupati atau Walikota. Sehingga petahana akan selangkah dalam pendekatan kepada masyarakat ketimbang calon lainnya.

Ketiga, calon penantang petahana harus menemukan celah dalam mensikapi berbagai cara yang dilakukan dalam pendekatan kepada pendukung atau konstituen karena sebagian program dalam hal bantuan sudah banyak dimonopoli oleh petahana. Calon penantang petahana harus mempersiapkan “bahan” yang lebih agar bisa memenagkan simpati masyarakat.

Seperti pilkada yang akan di lakukan oleh Kabupaten/Kota Blitar, dimana petahana juga ikut kembali dalam konstetasi pesta demokrasi. Dari berbagai hal tersebut, maka kesempatan untuk mendapatkan pulung lebih besar dari pada calon penantang. Karena petahana sudah bisa menjalankan strukturalnya dalam masa pandemi Covid-19 melalui berbagai batuan baik kesehatan maupun ekonomi kepada masyarakat.

Lain halnya dengan calon penantang petahana, mereka dituntut untuk lebih kreatif dan cerdas dalam menyikapi situasi seperti ini. Untuk bisa memenangkan simpati rakyat dalam pilkada ini, penantang petahana harus bisa menunjukkan eksistensi secara nyata dalam membantu masyarakat. Tentunya dengan cost yang tidak sedikit.

Dalam pilkada yang akan dilaksanakan dalam masa pandemi ini, kita semua berharap bahwa pilkada Kabupaten/ Kota  Blitar nantinya akan berjalan dengan demokratis, aman tanpa ada berbagai kasak-kusuk dan huru-hara. Siapapun yang nantinya terpilih sebagai pemimpin yang jelas mereka yang sudah mendapatkan (pulung) sebagai pemimpin. (AN)